Saturday, December 11, 2010

Kanak-kanak indigo



Kanak-kanak indigo atau anak indigo, anak nila (Bahasa Inggeris: Indigo Children) ialah konsep Zaman Baru kanak-kanak yang terbaru lahir di dunia ini. Anak ini memiliki sifat yang unik yang membezakan generasinya dengan generasi sebelumnya. Istilah indigo (biru nila) ini menunjukkan warna aura dalam warna kehidupan mereka. Indigo sendiri juga terkait dengan indera keenam yang terletak pada cakra mata ketiga yang menggambarkan intuisi dan kekuatan batin yang luar biasa tajam generasi ini melebihi kemampuan orang kebanyakan. Banyak dari mereka memiliki kelebihan dengan bakat yang luar biasa atau secara akademik berprestasi. Anak yang mengalami indigo ini mampu menunjukkan empati yang sangat dalam dan mudah merasa hiba, serta tampak bijaksana untuk anak seusianya.

Kanak-kanak indigo datang ke dunia dengan pelbagai misi. Kebanyakan daripada mereka merupakan pendobrak suatu susunan yang salah. Mereka bertugas meluruskan ketidakbenaran dan ketidaksamaan yang berlaku di sekelilingnya. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku mereka yang tidak patuh dan kesulitan dalam menjalankan dengan sistem yang ada, misalnya saja penolakan dan sikap kaku terhadap system pendidikan yang ada.

Kanak-kanak indigo juga sering menunjukkan perilaku memberontak terhadap suatu pemerintahan, tidak patuh terhadap aturan atau adat, kesulitan dalam mengelola emosinya, sensitif atau rapuh. Tidak jarang pula anak menunjukkan sikap yang sangat dingin dan tidak punya perasaan. Terkadang orang akan melabel anak dengan indikasi gangguan ADD (attention deficit disorder). Bentuk perilaku tersebut terkadang menyebabkan kesulitan bagi anak-anak ini dalam melewati masa kanak-kanak, bahkan dalam melewati masa remaja (Chapman. 2006).

Menjadi indigo tidaklah mudah, tapi hal itu merupakan suatu tugas yang harus dijalankan. Kanak-kanak indigo merupakan salah satu orang yang hadir dan membawa hal yang baru terhadap suatu kemajuan di bumi ini.

Ciri-ciri

Berikut ini merupakan ciri khas kanak-kanak indigo:

  1. Mereka datang ke dunia dengan perasaan kerajaan (dan sering bertindak seperti itu).
  2. Mereka mempunyai perasaan "saya semestinya berada di sini," dan terkejut ketika orang lain tidak berfikir begitu.
  3. Harga diri bukanlah masalah besar bagi mereka. Mereka sering memberitahu orang tua "siapakah mereka."
  4. Mereka mempunyai kesusahan terhadap kuasa mutlak (kuasa tanpa penjelasan atau pilihan).
  5. Mereka tidak akan melakukan hal-hal tertentu. Contohnya, menunggu dalam barisan adalah sukar bagi mereka.
  6. Mereka berasa kecewa dengan sistem yang berorientasikan ritual dan tidak memerlukan pemikiran kreatif.
  7. Mereka sering melihat cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu, baik di rumah mahupun di sekolah, yang membuat mereka nampak seperti "system Busters" (tidak sesuai untuk sistem apapun).
  8. Mereka nampak antisosial kecuali jika mereka dengan jenis mereka sendiri. Jika tidak ada orang lain yang sama jenis di sekitar mereka, mereka sering berpaling ke dalam, berasa tiada orang lain memahami mereka. Sekolah sangat susah bagi sosial mereka.
  9. Mereka tidak akan menjawab kepada disiplin yang akan menjadi seseorang berasa bersalah, seperti "Tunggu sampai ayahmu pulang dan biar ayah melihat apa yang anda lakukan".
  10. Mereka tidak malu untuk membiarkan anda tahu apa yang dimahukan oleh mereka.

Dalam menangani kanak-kanak indigo ini yang perlu diperhatikan adalah bahawa mereka memiliki kesulitan dalam menguruskan emosinya. Pada beberapa anak hal ini disebabkan karena permasalahan kecemasan, kemungkinan perilaku obsesif kompulsif atau kepanikan yang berlebih (panic attack). Penyebab lain muncul kerana mereka berusaha keras untuk belajar dan memahami cara yang masih tradisional ataupun kebiasaan rutin. Sehingga tidak jarang bagi mereka akan memiliki harga diri yang rendah dan mudah menyerah dalam mengerjakan yang diberikan (tugas sekolah misalnya). Terkadang beberapa anak indigo menunjukkan reaksi kemarahan, depresi, bahkan menyakiti diri sendiri yang berlebih yang tidak dapat dijelaskan secara logik bahkan menakutkan bagi orangtuanya.

Kanak-kanak indigo memiliki getaran tenaga yang tinggi dengan pola yang menetap, yang kemudian ditunjukkan dengan aura warna indigo pada tubuhnya. Getaran tertinggi ini mencipta perbezaan terhadap fungsi tubuh dan otak pada anak indigo. Kebanyakan daripada mereka berfikir dengan menggunakan otak kanan. Saat stress anak kemudian mengembangkan tatacara dalam otak, yang bahaya di kalangan pemikiran logis dan muat berfikir rasional, sehingga muncul reaksi emosional yang berlebih. Ada pula anak yang menunjukkan dengan perilaku marah, kesedihan atau ketakutan yang mendalam bahkan kecemasan yang berlebih.

Memahami tenaga asas dan mampu mengamati keadaan tenaga pada saat Kanak-kanak indigo sedang tidak stabil sangatlah membantu bagi orang tua atau terapis, terutama saat bekerja sama dengan anak ini. Diperlukan adanya pemahaman dasar mengenai tenaga dengan mengajarkan pada mereka cara melindungi diri. Hal lain yang tidak kalah penting iaitu dengan mengajar anak indigo dan orang tuanya terhadap teknik dalam menyeimbangkan tenaga dan cara untuk mengurangkan tahap stress pada anak, sehingga anak tidak terpengaruh pada tenaga yang negatif.

cube kite sume fikirkan,

jike kite adlah manusia indigo,apakah matlamat kite slepas ni,di sebabkan sifat kite berlainan dari org,
dn susah mahu bdpan dgn situasi dunia skrg,dan ke manakah tujuan kte sebagai mnusie indigo?
apkah kpntgn kite sebenarnye?

cube bayangkan,bukankah seksa bile terasa diri terasing,selalu merasakan sesuatu tdk kena,tapi org lain tdk bersetuju,pastu kte trpakse memendam prasaan shje,dn rase ingin mnentang stiap mase apabila sesuatu itu tidak betul,rasa nak mmbela ketidakadilan dn menegakkan keadilan,
tapi bukankah penat kalau kte menegakkan sesuatu bersendirian,tnpe sokongan malah mndapat kritikan lagi..hem...

bukankah penat jike ini terus berulang dn berulang?xbosan ke?tapi nak buat mcam mana.
ssh untuk lari dari masyarakat,pnentangan sentiasa ada,nak xnak kne ikut cara biase.
tapi diri kite tdk boleh brpura-pura mnjadi sprti org lain,krn kte tahu sumthing is wrong.

so skrg nei ape nak buat????arrrhhhhgg.....

Wednesday, December 8, 2010

Homoseksual dan lesbiah dalam persepektif Islam

Ciri-ciri kaum Homoseksual dan Lesbian
  1. Fitrah dan tabiat mereka terbalik dan berubah dari fitrah yang telah Allah ciptakan pada pria, yaitu kehendak kepada wanita bukan kepada laki-laki.
  2. Mereka mendapatkan kelezatan dan kebahagian apabila mereka dapat melampiaskan syahwat mereka pada tempat-tempat yang najis dan kotor dan melepaskan air kehidupan (mani) di situ.
  3. Rasa malu, tabiat, dan kejantanan mereka lebih rendah daripada hewan.
  4. Pikiran dan ambisi mereka setiap saat selalu terfokus kepada perbuatan keji itu karena laki-laki senantiasa ada di hadapan mereka di setiap waktu. Apabila mereka melihat salah seorang di antaranya, baik anak kecil, pemuda atau orang yang sudah berumur, maka mereka akan menginginkannya baik sebagai objek ataupun pelaku.
  5. Rasa malu mereka kecil. Mereka tidak malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga kepada makhlukNya. Tidak ada kebaikan yang diharapkan dari mereka.
  6. Mereka tidak tampak kuat dan jantan. Mereka lemah di hadapan setiap laki-laki karena merasa butuh kepadanya.
  7. Allah mensifati mereka sebagai orang fasik dan pelaku kejelekan ; “Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” [Al-Anbiya : 74]
  8. Mereka disebut juga sebagai orang-orang yang melampui batas : “Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melapaui batas” [Al-A'raf : 81]. Artinya, mereka melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah.
  9. Allah menamakan mereka sebagai kaum perusak dan orang yang zhalim :”Luth berdo’a. ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu’. Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini. Sesunguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim” [Al-Ankabut : 30-31]

Ulama dan Hukuman

Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) berpendapat : praktik homoseksual tidak dikategorikan zina dengan alasan: Pertama: karena tidak adanya unsur (kriteria) kesamaan antara keduanya. unsur menyia-nyiakan anak dan ketidakjelasan nasab (keturunan) tidak didapatkan dalam praktik homoseksual. Kedua: berbedanya jenis hukuman yang diberlakukan para sahabat (sebagaimana di atas). Berdasarkan kedua alasan ini, Abu Hanifah berpendapat bahwa hukuman terhadap pelaku homoseksual adalah ta’zir (diserahkan kepada penguasa atau pemerintah). [al hidayah syarhul bidayah 7/194-196, fathul qadir juz : 11 hal : 445-449 dan al mabsuth juz :11 hal : 78-81]

Menurut Muhammad Ibn Al Hasan As Syaibani dan Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) : praktik homoseksual dikategorikan zina, dengan alasan adanya beberapa unsur kesamaan antara keduanya, seperti: Pertama, tersalurkannya syahwat pelaku. Kedua, tercapainya kenikmatan (karena penis dimasukkan ke lubang dubur). Ketiga, tidak diperbolehkan dalam Islam. Keempat, menumpahkan (menya-nyiakan) air mani. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Muhammad Ibn Al Hasan dan Abu Yusuf berpendapat bahwa hukuman terhadap pelaku homoseksual sama seperti hukuman yang dikenakan kepada pezina, yaitu: kalau pelakunya muhshan (sudah menikah), maka dihukum rajam (dilempari dengan batu sampai mati), kalau gair muhshan (perjaka), maka dihukuman cambuk dan diasingkan selama satu tahun. [dalam al hidayah syarhul bidayah 7/194-196, fathul qadir juz : 11 hal : 445-449 dan al mabsuth juz :11 hal : 78-81]

Menurut Imam Malik praktek homoseksual dikategorikan zina dan hukuman yang setimpal untuk pelakunya adalah dirajam, baik pelakunya muhshan (sudah menikah) atau gair muhshan (perjaka). Ia sependapat dengan Ishaq bin Rahawaih dan As Sya’bi. [minahul jalil, juz : 19 hal : 422-423]

Menurut Imam Syafi’i, praktik homoseksual tidak dikategorikan zina, tetapi terdapat kesamaan, di mana keduanya sama-sama merupakan hubungan seksual terlarang dalam Islam. Hukuman untuk pelakunya: kalau pelakunya muhshan (sudah menikah), maka dihukum rajam. Kalau gair muhshan (perjaka), maka dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Hal tersebut sama dengan pendapat Said bin Musayyib, Atha’ bin Abi Rabah, An Nakha’I, Al Hasan dan Qatadah. [al majmu' juz : 20 hal : 22-24 dan al hawi al kabir, juz : 13 hal : 474-477]

Menurut Imam Hambali, praktik homoseksual dikategorikan zina. Mengenai jenis hukuman yang dikenakan kepada pelakunya beliau mempunyai dua riwayat (pendapat): Pertama, dihukum sama seperti pezina, kalau pelakunya muhshan (sudah menikah) maka dihukum rajam. kalau pelakunya gair muhshan (perjaka), maka dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. (pendapat inilah yang paling kuat). Kedua, dibunuh dengan dirajam, baik dia itu muhshan atau gair muhshan. [al furu', juz :11 hal : 145-147, al mughni juz : 10 hal : 155-157 dan al inshaf juz : 10 hal : 178]

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa di antara landasan hukum yang mengharamkan praktik homoseksual dan lesbian adalah Ijma’. untuk mengetahui lebih jelas peran Ijma’ dalam menentukan suatu hukum, kita akan membahasnya secara sederhana.

Hukuman Terhadap Pelaku Homoseks setelah Musnahnya Kaum Luth

Para pengikut madzhab Hambali menukil ijma’ (kesepakatab) para sahabat yang mengatakan bahwa hukuman homoseks adalah dibunuh. Mereka berdalil dengan hadits: “Barangsiapa yang kalian dapatkan melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah yang menyetubuhi dan yang disetubuhi”.

Mereka juga berdalil dengan perbuatan Ali Radhiyallahu ‘anhu yang merajam orang yang melakukan homoseksual. Syafi’i berkata : “Dengan ini, kita berpendapat merajam orang yang melakukan perbuatan homoseksual, baik dia seorang muhsan atau bukan”.

Dan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Khalid bin Walid bahwa ada di pinggiran kota Arab seorang laki-laki yang dinikahi sebagaimana dinikahinya seorang perempuan. Maka dia menulis surat kepada Abu Bakar Shiddik Radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakar lalu bermusyawarah dengan para sahabatnya. Orang yang paling keras pendapatnya adalah Ali Radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata, “Tidaklah melakukan perbuatan ini kecuali hanya satu ummat dan kalian telah mengetahui apa yang telah Allah lakukan kepada mereka. Aku berpendapat agar dia dibakar dengan api”. Kemudian Abu Bakar mengirim surat kepada Khalid bin Walid untuk membakarnya.

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Dipertontonkan dari bangunan yang paling tinggi lalu dilemparkan (ke bawah) diikuti lemparan batu”.

Dengan demikian hukuman homoseks adalah bisa dengan dibakar, dirajam dengan batu, dilempar dari bangunan yang paling tinggi yang diikuti lemparan batu, atau dipenggal lehernya. Ada pula yang mengatakan ditimpakan tembok kepadanya.

Imam Syaukani memilih hukuman bunuh dan melemahkan pendapat selain itu. Mereka berpendapat seperti itu menilik firman Allah.

“Artinya : Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” [Hud : 82-83]

Dalam penerapan hukuman ini, pelaku homoseks dipersilakan memilih hukuman yang dia kehendaki dari hukuman-hukuman yang ada.

cara mengatasinya..

1-tekankan dengan pendidikan agama islam.

2-menjaga pergaulan antara sahabat,dan smue masyarakat.

3-Sentiasa berdamping dengan sahabat yg boleh membawa kita kejalan yang benar.

4-jangan cepat terpengaruh dengan dengan budaya2x dari barat..

5-tambah pengetahuan mengenai keburukan lesbian dan homosek..

Teori Kepimpinan dan Politik Menurut Islam

TUJUAN:
1-mengabdikan diri kepada Allah.
2-menanbahbaik sistem pemerintahan.
3-mencari kebenaran yang hakiki.
4-membetukan kesalahan.
5-menyatupadukan masyarakat.
6-mengelakkan pengkhususan kuasa pemerintah kepada sesuatu pihak.
7-menjana idea baru untuk mengembangkan agama bangsa dan negara.

Pndangan sye:politik Malaysia
-terlalu banyak rusuhan yg berlaku berpunca drpada politik..penyebabnya masyarakat bermusuh antara satu sama lain,pnddk kampng sdah jarang bertanya khabar,masalah yg kecil dijadikan masalah yg besar..pendapat saya apa yang perlu ditekankan dalam aspek politik ini ialah satu cara untuk mencari penyelesaian yang terbaik dan mengelakkan perpecahan.prinsip yang perlu dipegang disini ialah setiap manusia ada melakukan kesalahan dan kesalahan tersebut harus lah dimaafkan dan diperbetukan..Contohnya apabila pihak kerajaan melakukan kesalahan maka pembangkang haruslah memperbetulkannya,mnkala pihak kerajaan hruslah mnerima hakikat dan berfikiran terbuka.begitu juga sebaliknya..mngikut sjrah Malaysia,timbulnya pembangkang adalah disebabkan pihak kerajaan tidak mahu mendengar pendapat sesetangah pihak yg lain...sekian

ZAMAN NABI DAN SAHABAT:

Rasulullah serta sahabat buktikan urus kuasa ikut syariat cara terbaik tadbir negara

ETIKA politik Islam adalah sesuatu yang penting dalam membentuk pemerintahan dan negara kerana politik dipandang sebagai sebahagian daripada ibadah, maka perlu dilaksanakan berdasar prinsip ibadah.

Contohnya, dalam berpolitik mesti diniatkan kerana Allah dan oleh itu tidak boleh melanggar perintah dalam beribadah kerana pelanggaran terhadap prinsip ibadah boleh merosak kesucian politik.

Etika politik dipandang sangat perlu kerana berkait dengan prinsip Islam dalam mentadbir masyarakat dan negara. Politik sering menyangkut hubungan antara manusia, misalnya saling menghormati, menghargai hak orang lain dan tidak memaksa orang lain menerima pendapat sendiri.

Apabila hubungan masyarakat dan penyelenggaraan negara tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka yang akan muncul adalah kekacauan, tidak aman, anarki dan perkara yang menjadi kecaman masyarakat.

Walaupun memilih pemimpin adalah hak setiap individu atau warga negara namun, Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam sangat mementingkan suatu kepemimpinan yang berkesan dalam sebuah negara.

Bahkan selepas Nabi Muhammad SAW wafat, timbul persoalan politik berkaitan penggantian kepemimpinan. Mekanisme pemilihan pemimpin memang tidak ada pada zaman Rasulullah SAW. Nabi SAW tidak memberikan pedoman khusus atau model kepemimpinan bagi umat Islam.

Selama beberapa tahun sepeninggalan Rasulullah SAW, umat Islam mengalami beberapa model kepemimpinan, antara lain bercorak khalifah dan dinasti.

Sekarang kekuatan politik semakin berkembang dan muncul bentuk negara seperti republik, aristokrasi dan kerajaan. Kekuatan politik itu didorong semangat teologi Islam yang menyebutkan: “Wahai orang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya dan ulil amri (yang berkuasa) di antara kamu.” (Surah an-Nisa’, ayat 59)

Realiti politik dan ada semangat teologi Islam mendorong ahli falsafah serta etika politik Islam untuk membuat peraturan pemilihan seorang pemimpin pemerintahan yang membina negara ideal dalam beberapa karya.

Al-Farabi dalam al-Madinah al-Fadhilah, Ibnu Maskawih dalam Tahzib al-Akhlak dan al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sultaniyah. Keadaan ini bermakna pemikir Islam menyedari betapa Islam memperhati dalam menciptakan dan mengembangkan negara sempurna.

Untuk merealisasikan tuntutan itu, umat Islam dihadapkan dengan beberapa pilihan sistem politik antara lain demokrasi. Ia adalah antara mekanisme memilih pemimpin dan diandaikan sebagai mekanisme unggul dan telus untuk memajukan bangsa serta negara pada masa depan.

Di samping itu, wujud pula politik jahiliah yang tidak menghiraukan kebenaran. Kebodohan dalam berpolitik sering terjadi misalnya dengan sogokan dan rasuah politik yang melanggar sistem demokrasi.

Tokoh politik memecat pihak yang tidak sependapat dengannya, atau tidak bermusyawarah dengan baik antara mereka sedangkan Islam mengajar sebaliknya. Fenomena itu wujud kerana manusia memiliki nafsu mementingkan diri apatah lagi politik berhubung kait dengan kuasa.

Justeru, sesuai dengan prinsip Islam, sebaiknya umat Islam saling menasihati dan menyedarkan sesama sendiri supaya demokrasi dapat diamal serta diteruskan dengan baik dan lancar.

Pada masa awal Islam, kita melihat ada kelompok Muhajirin dan Ansar yang bertentangan dalam pemilihan pemimpin selepas Nabi SAW wafat. Kewujudan mereka wajar dilihat sebagai satu hikmah.

Dalam keadaan itu, yang penting ialah bersikap bijaksana, toleransi dan tidak memandang parti atau golongan sendiri sebagai paling baik, benar dan telus, demi menjamin keutuhan rakyat dan negara keseluruhannya.

Ajaran Islam secara tegas menyatakan kepemimpinan adalah kesinambungan yang tidak boleh diabaikan dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Al-Quran banyak memberikan gambaran hubungan positif antara pemimpin yang baik dengan kesejahteraan masyarakat.

Keadaan ini dapat dilihat daripada Nabi Yusuf yang terkenal sebagai seorang dipercayai untuk memegang amanah mentadbir kewangan dan perekonomian negara.

Nabi Yusuf dengan bermodalkan kejujuran dan kecerdasannya berjaya menyelamatkan Mesir daripada krisis makanan dan ekonomi berpanjangan.

Demikian pula dengan kepemimpinan Rasulullah SAW yang mampu menciptakan revolusi peradaban, adalah kepemimpinan teladan yang tiada tolak bandingnya dalam sejarah tamadun umat manusia.

Begitu pula kepemimpinan sahabat Baginda dan khalifah selepasnya dengan baik dapat membawa perubahan masyarakat dan negara yang padu dan mantap.

Prinsip kepemimpinan Islam yang memberi tumpuan kepada pembinaan negara yang maju, aman serta berteraskan kepada kejujuran dan keikhlasan wajar diwarisi serta diterjemahkan dalam dunia politik hari ini supaya kepemimpinan berjalan mengikut syariat